Forum diskusi tersebut mengangkat tema “Membaca Ulang Elar: Alas Perubahan atau Alas Pemalsuan” dan dihadirkan sebagai ruang refleksi kritis untuk membaca ulang arah pembangunan Kecamatan Elar.
Ketua IKBEM, Usman Harum, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa diskusi ini lahir dari kegelisahan bersama atas realitas pembangunan Elar yang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan masyarakat.
“Elar adalah rahim yang melahirkan sejumlah kecamatan di Manggarai Timur. Namun ironisnya, daerah yang menjadi sumber itu justru tertinggal. Forum ini kami hadirkan sebagai ajakan refleksi kolektif: apakah pembangunan yang berjalan benar-benar menyentuh denyut kebutuhan rakyat, atau sekadar berhenti pada laporan, angka, dan data administratif tanpa dampak nyata,” ujarnya.
Diskusi ini digelar sebagai upaya merumuskan strategi pembangunan yang berangkat dari realitas lapangan. Harapannya, Elar tidak hanya tercatat sebagai wilayah administratif, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berbagai persoalan mendasar yang selama ini menghambat kemajuan Elar dibahas secara terbuka. Meski memiliki potensi besar di sektor pertanian, keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala utama. Minimnya jaringan listrik, buruknya akses jalan, keterbatasan distribusi pupuk, serta lemahnya dukungan sarana ekonomi dinilai menghambat aktivitas masyarakat.
Salah satu persoalan yang turut disoroti adalah keberadaan pasar yang sebenarnya telah tersedia, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut memunculkan harapan agar pasar dapat diaktifkan kembali dan difungsikan sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Kecamatan Elar.
Sektor pertanian, khususnya komoditas porang yang memiliki nilai ekonomi tinggi, disebut belum tergarap maksimal akibat lemahnya dukungan logistik dan infrastruktur pendukung. Tanpa pembenahan sarana dasar, potensi tersebut dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan di atas kertas.
Salah satu narasumber, Pa Carles, menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur yang memadai. Ia mendorong penyediaan gudang penampung hasil panen, kemitraan langsung dengan petani, serta penguatan hilirisasi melalui Koperasi Merah Putih agar hasil pertanian memberikan nilai tambah yang nyata.
“Infrastruktur yang memadai dan pasar yang tertata akan membuka peluang ekonomi yang lebih luas dan manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyatakan kesiapannya untuk terlibat langsung, termasuk “pasang badan”, dalam upaya penyelesaian sengketa tanah guna mencegah konflik dan menjaga stabilitas sosial.
Sementara itu, Bang Jul menyoroti persoalan sengketa tanah yang masih membayangi pembangunan di Elar. Menurutnya, penegasan batas tanah serta pembentukan tim agraria di setiap desa menjadi langkah strategis untuk mencegah konflik berkepanjangan.
“Penyelesaian sengketa tanah harus dilakukan secara tuntas dan transparan agar pembangunan infrastruktur dan penguatan sektor pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Forum diskusi IKBEM ini menjadi cermin kritis terhadap arah pembangunan Elar selama ini. Para narasumber sepakat bahwa penguatan sektor pertanian, pembangunan infrastruktur, penyelesaian sengketa tanah, serta optimalisasi pasar merupakan kunci agar Elar benar-benar menjadi alas perubahan yang dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Komentar
Posting Komentar