Langsung ke konten utama

Dari Rahim Pemekaran ke Daerah Tertinggal, IKBEM Soroti Arah Pembangunan Elar.



Kecamatan Elar, salah satu kecamatan tertua di Kabupaten Manggarai Timur yang telah melahirkan tiga kecamatan baru, hingga kini masih dinilai tertinggal dibandingkan wilayah-wilayah hasil pemekarannya. Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam forum diskusi yang diselenggarakan Organisasi Daerah Ikatan Keluarga Besar Elar–Malang (IKBEM) pada Sabtu, 24 Januari 2026.

Forum diskusi tersebut mengangkat tema “Membaca Ulang Elar: Alas Perubahan atau Alas Pemalsuan” dan dihadirkan sebagai ruang refleksi kritis untuk membaca ulang arah pembangunan Kecamatan Elar.

Ketua IKBEM, Usman Harum, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa diskusi ini lahir dari kegelisahan bersama atas realitas pembangunan Elar yang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan masyarakat.

“Elar adalah rahim yang melahirkan sejumlah kecamatan di Manggarai Timur. Namun ironisnya, daerah yang menjadi sumber itu justru tertinggal. Forum ini kami hadirkan sebagai ajakan refleksi kolektif: apakah pembangunan yang berjalan benar-benar menyentuh denyut kebutuhan rakyat, atau sekadar berhenti pada laporan, angka, dan data administratif tanpa dampak nyata,” ujarnya.

Diskusi ini digelar sebagai upaya merumuskan strategi pembangunan yang berangkat dari realitas lapangan. Harapannya, Elar tidak hanya tercatat sebagai wilayah administratif, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Berbagai persoalan mendasar yang selama ini menghambat kemajuan Elar dibahas secara terbuka. Meski memiliki potensi besar di sektor pertanian, keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala utama. Minimnya jaringan listrik, buruknya akses jalan, keterbatasan distribusi pupuk, serta lemahnya dukungan sarana ekonomi dinilai menghambat aktivitas masyarakat.

Salah satu persoalan yang turut disoroti adalah keberadaan pasar yang sebenarnya telah tersedia, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut memunculkan harapan agar pasar dapat diaktifkan kembali dan difungsikan sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Kecamatan Elar.

Sektor pertanian, khususnya komoditas porang yang memiliki nilai ekonomi tinggi, disebut belum tergarap maksimal akibat lemahnya dukungan logistik dan infrastruktur pendukung. Tanpa pembenahan sarana dasar, potensi tersebut dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan di atas kertas.

Salah satu narasumber, Pa Carles, menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur yang memadai. Ia mendorong penyediaan gudang penampung hasil panen, kemitraan langsung dengan petani, serta penguatan hilirisasi melalui Koperasi Merah Putih agar hasil pertanian memberikan nilai tambah yang nyata.

“Infrastruktur yang memadai dan pasar yang tertata akan membuka peluang ekonomi yang lebih luas dan manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyatakan kesiapannya untuk terlibat langsung, termasuk “pasang badan”, dalam upaya penyelesaian sengketa tanah guna mencegah konflik dan menjaga stabilitas sosial.

Sementara itu, Bang Jul menyoroti persoalan sengketa tanah yang masih membayangi pembangunan di Elar. Menurutnya, penegasan batas tanah serta pembentukan tim agraria di setiap desa menjadi langkah strategis untuk mencegah konflik berkepanjangan.

“Penyelesaian sengketa tanah harus dilakukan secara tuntas dan transparan agar pembangunan infrastruktur dan penguatan sektor pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Forum diskusi IKBEM ini menjadi cermin kritis terhadap arah pembangunan Elar selama ini. Para narasumber sepakat bahwa penguatan sektor pertanian, pembangunan infrastruktur, penyelesaian sengketa tanah, serta optimalisasi pasar merupakan kunci agar Elar benar-benar menjadi alas perubahan yang dirasakan oleh seluruh masyarakat.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Rakyat Dan Arah Pembangunan Ekonomi Lokal, Refleksi Keadilan Ruang Di Elar.

  Gambar: Gedung Pasar di Elar A. Gambaran umum  suaraIKBEM - 31/01/2026   Pembangunan kerap dipahami secara reduktif sebagai proses menghadirkan bangunan fisik, infrastruktur, dan fasilitas ekonomi modern. Jalan yang diaspal, gedung yang berdiri megah, serta ruko yang berjajar sering dijadikan indikator utama keberhasilan pembangunan. Cara pandang semacam ini, meskipun tampak logis, sesungguhnya menyederhanakan makna pembangunan itu sendiri. Dalam perspektif ilmu pembangunan, pendekatan yang terlalu menekankan aspek fisik berisiko mengabaikan dimensi sosial, kultural, dan kelembagaan masyarakat. Todaro dan Smith (2015) menegaskan bahwa pembangunan merupakan proses multidimensional, yakni proses yang mencakup perubahan ekonomi, sosial, politik, dan kelembagaan secara simultan dengan tujuan utama meningkatkan kualitas hidup manusia. Dengan demikian, pembangunan tidak dapat diukur semata dari bertambahnya jumlah bangunan atau fasilitas, melainkan dari sejauh mana perub...

Dari Rakyat untuk Rakyat: Mengapa Demokrasi Justru Terjebak dalam Cengkeraman Elit?

  Gambar : Olahan Penulis(2026) SuaraIKBEM -20/03/2026 Demokrasi, pada hakikatnya, bukan sekadar sebuah sistem politik, melainkan sebuah konsepsi (gagasan dasar yang membentuk cara pandang) sekaligus etos (sikap dasar yang mencerminkan nilai hidup) yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam menentukan arah sejarahnya sendiri. Kata demokrasi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan), yang secara sederhana dimaknai sebagai kekuasaan berada di tangan rakyat. Namun, makna ini tidak berhenti pada definisi etimologis (asal-usul kata), melainkan berkembang menjadi sebuah paradigma (kerangka berpikir) yang menuntut keadilan, kesetaraan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan bersama. Sebagaimana dikemukakan oleh Abraham Lincoln, demokrasi adalah “government of the people, by the people, for the people” (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat). Pernyataan ini menegaskan bahwa legitimasi (keabsahan kekuasaan) berasal dari kehenda...